Recent Movies

Harry Potter and the Deathly Hallows

 
Lord Voldemort mengambil Tongkat Sihir Elder dari makam Albus Dumbledore, dan Severus Snape telah menjadi kepala sekolah Hogwarts. Sementara itu, mengubur Dobby di halaman Shell Cottage, Harry dan kedua sahabatnya kemudian berusaha menyusun rencana baru. Ia bertanya kepada Ollivander mengenai Tongkat Sihir Elder, dan ternyata pemilik terakhir tongkat tersebut adalah Dumbledore. Ollivander berkata, bahwa Harry tidak akan menang melawan Voldemort yang memiliki Tongkat Elder. Harry dan kedua sahabatnya menyusun rencana untuk membobol lemari besi Bellatrix Lestrange di Bank Gringott's. Mereka curiga satu horcrux tersembunyi di sana. 
 
Dibantu Griphook (dengan imbalan Pedang Godric Gryffindor), Hermione meminum ramuan Polijus menyamar sebagai Bellatrix Lestrange, Ron menyamar sebagai penyihir sementara Harry dan Griphook berada di dalam Jubah Gaib. Mereka memasuki lemari besi Bellatrix di Bank Gringott's. Horcrux yang dimaksud ternyata adalah piala Helga Hufflepuff. Namun, Griphook kemudian mengkhianati mereka dan melarikan diri dan mencuri pedang Godric Gryffindor, meninggalkan mereka terpojok oleh pihak keamanan yang merasa ditipu. Harry, Ron, dan Hermione berhasil melarikan diri dengan menaiki naga penjaga lemari besi. 

Harry mendapatkan penglihatan segera setelah pelarian mereka, ia dapat melihat melalui mata Voldemort dan mengetahui pikirannya. Di dalam penglihatan tersebut, Voldemort membunuh beberapa goblin dan penjaga Bank Gringott's lainnya, termasuk Griphook. Voldemort telah mendatangi tempat-tempat Horcruxnya yang disembunyikan dan mengetahui bahwa mereka telah lenyap dan hancur. Harry melihat Voldemort marah dan takut. Harry juga melihat bahwa Horcrux berikutnya berkaitan dengan Rowena Ravenclaw, dan ada di kastil Hogwarts. Ketiganya segera pergi ke Hogsmeade untuk mencari jalan masuk ke sekolah Hogwarts. Di Hogsmeade, kehadiran mereka membunyikan mantra pendeteksi Caterwauling dan dihadang oleh para Pelahap Maut. Namun, mereka diselamatkan oleh Aberforth Dumbledore, saudara Albus Dumbledore, yang sering Harry lihat di pecahan cermin yang ia miliki. Aberforth membuka jalan terowongan ke Hogwarts di mana mereka disambut oleh Neville Longbottom. Tiga sekawan tersebut bertemu kembali dengan anggota Laskar Dumbledore dan meminta bantuan untuk mencari mahkota Ravenclaw.

Snape mendengar kembalinya Harry dan mengumumkan bahwa semua orang yang membantu Harry kembali, terutama siswa, akan dihukum berat. Harry kemudian muncul dan menantang Snape mengenai kematian Dumbledore, dan Minerva McGonagall menantangnya berduel. Snape melarikan diri dan McGonagall memerintahkan seluruh Hogwarts bersiap untuk bertempur. Pada saat ini, anggota Orde Phoenix dan simpatisannya berdatangan. Atas inisiatif Luna Lovegood, Harry kemudian berbicara dengan hantu Helena Ravenclaw, putri dari Rowena Ravenclaw. Helena mengatakan bahwa Voldemort telah mengisi mahkota ibunya dengan ilmu hitam, dan menyatakan bahwa benda itu ada di Kamar Kebutuhan. Sementara, Ron dan Hermione pergi ke Kamar Rahasia. Hermione memusnahkan Piala Hufflepuff dengan taring Basilisk, Ron dan Hermione berciuman untuk pertama kalinya. Di kamar kebutuhan, Harry dicegat oleh Draco Malfoy, Gregory Goyle, dan Blaise Zabini, namun Ron dan Hermione datang membantu Harry. Goyle menggunakan mantra api kutukan Fiendfyre namun jatuh dan mati terbakar. Draco dan Blaise diselamatkan oleh Harry, Ron, dan Hermione sebelum Harry menusuk Mahkota Ravenclaw dengan taring Basilisk dan melemparnya ke dalam kobaran api, memusnahkan mahkota itu. Sementara itu, ketika Hogwarts diserang oleh pasukan Voldemort, Harry kembali memasuki pikiran Voldemort dan menyadari bahwa ularnya, Nagini, juga adalah Horcrux. Di dalam pertempuran yang berlangsung, Fred, Lupin, Tonks, dan Lavender Brown, serta sekitar 50 orang lainnya terbunuh. Pada saat yang sama, Hermione membunuh Fenrir Greyback (pembunuh Lavender).

Voldemort dan Snape bertemu di rumah perahu dan memberitahu Snape jika Tongkat Elder tidak berfungsi, karena dia bukan tuannya, dan Snape adalah tuan dari tongkat itu karena Snape yang telah membunuh Dumbledore, tuan sebelumnya. Voldemort memerintahkan Nagini untuk membunuh Snape. Di Boathouse (rumah perahu Hogwarts), Harry, Ron dan Hermione melihat Voldemort membunuh Severus Snape dengan tujuan untuk mentransfer kekuatan Elder Wand kepada dirinya sendiri. Dalam sekaratnya, Snape memberikan ingatannya kepada Harry, Snape menangis, mengeluarkan air mata memori, dan berkomentar tentang bagaimana Harry memiliki mata ibunya, lalu mati. 

Dari memori itu terungkap bahwa Snape berada di sisi Dumbledore, didorong dengan cinta seumur hidupnya kepada Lily Potter. Snape telah diminta Dumbledore untuk membunuh dirinya jika situasinya mengharuskan demikian karena bagaimanapun juga hidupnya tidak akan lama lagi akibat kutukan yang terdapat di Horcrux Cincin Gaunt. Selanjutnya, terungkap pula bahwa Harry adalah Horcrux terakhir Voldemort, yang diciptakan tanpa sengaja di Godric Hallow, untuk itu ia harus mati juga sebelum Voldemort dapat dibunuh. 

Harry kemudian pergi kehutan terlarang, menyerahkan diri dan Voldemort melancarkan kutukan untuk membunuhnya. Tapi alih-alih membunuh Harry, kutukan itu malah menghancurkan bagian dari jiwa Voldemort yang terdapat di tubuhnya. Harry pun memasuki dunia lain (limbo), dimana ia bertemu Profesor Albus Dumbledore, yang menjelaskan kepadanya tentang Harry sebagai Horcrux dan bahwa kutukan Voldemort telah menghancurkan jiwanya yang berada di tubuh Harry. Harry memutuskan kembali hidup untuk mengalahkan Voldemort, namun ia berpura-pura sudah tewas. Voldemort mengutus Narcissa Malfoy untuk memeriksa apakah Harry masih hidup. Ketika dia mencapai Harry, dia menemukan bahwa Harry masih hidup, dan bertanya pelan pada Harry apakah Draco masih hidup. Harry mengangguk, dan Narcissa menyatakan Harry mati.

Voldemort kemudian membawa "mayat" Harry ke Hogwarts dan mendeklarasikan "kematian" Harry kepada pejuang-pejuang Hogwarts dan siapa saja yang menentangnya akan mati. Neville Longbottom menarik Pedang Godric Gryffindor dan menantang Voldemort dengan sebuah pidato. Pada saat yang sama, Harry mengungkapkan bahwa dirinya masih hidup, dan mulai berduel dengan Voldemort di sekitar sekolah. Hermione dan Ron mencoba untuk membunuh Horcrux terakhir, Nagini. Ketika ular hampir membunuh mereka, Neville memenggal kepala Nagini dengan pedang Gryffindor. Di tempat lain, Molly Weasley membunuh Bellatrix Lestrange. 

Akhirnya, Voldemort mati setelah mencoba menggunakan Kutukan pembunuh Avada Kedavra terhadap Harry. Kutukan itu berbalik menyerang Voldemort sendiri setelah beradu dengan mantra pelepas senjata Harry (Expelliarmus). Harry menangkap tongkat itu. Setelahnya, Harry bergabung dengan kedua sahabatnya dan menjelaskan bahwa Tongkat Elder melindungi pemiliknya (Harry Potter sendiri). Harry menjelaskan kepada Ron dan Hermione bahwa Draco adalah tuan dari tongkat tersebut, bukan Snape, karena Draco melucuti senjata Dumbledore sebelum Snape membunuhnya. Kemudian, di Malfoy Manor, Harry melucuti senjata Draco, membuat Harry menjadi tuan dari tongkat itu. Harry kemudian mematahkan tongkat itu dan membuangnya ke parit Hogwarts, melenyapkan kekuatan tongkat itu selamanya.
19 tahun kemudian setelah Pertempuran di Hogwarts, Harry dan Ginny Weasley telah menikah dan membimbing anaknya yang bernama Albus Severus Potter dan anak-anak mereka yang lain ke dalam peron9 3/4. Ron dan Hermione juga menikah dan telah memiliki dua anak bernama Rose dan Hugo. Draco Malfoy memiliki anak bernama Scorpius. Mereka seluruhnya bertemu di stasiun kereta api King's Cross, untuk mengantar anak-anak mereka bersekolah ke Hogwarts. Ketika Albus khawatir akan masuk ke asrama Slytherin, Harry berkata bahwa topi asrama akan mempertimbangkan keinginan. Mereke menyaksikan anak-anak mereka naik kereta menuju Hogwarts.

JUMPER

 
Bagi David Rice (Hayden Christensen) itu bukanlah satu hal yang sulit. Karena dia adalah seorang `Jumpers` (pelompat). Seseorang yang memiliki kemampuan teleportasi hanya dalam hitungan detik.
Misalnya saja, saat David berada di kamar, hanya dengan memusatkan pikiran nya dia mampu berpindah ke tempat yang ingin dituju. Dalam hitungan detik, David mampu berpindah dari kamarnya menuju tempat berselancar di Hawai.
Kemampuan yang dimiliki David ini baru disadari setelah dia menyelamatkan bola kristal, hadiah yang dia berikan kepada wanita pujaannya, Millie (Anna Sophia Robb & Rachel Bilson).
Saking ingin mendapatkan perhatian dari sang gebetan, David tercebur di danau es, meski pada akhirnya david bisa menyelamatkan dirinya dengan “melompat”, dan secara tiba-tiba saja David sudah berada di perpustakaan sekolahnya.
Sadar memiliki kemampuan yang luar biasa, David pun tidak menyia-nyiakannya kemampuannya tersebut. Kepergian sang ibu sejak David berusia 5 tahun, menginspirasikan dia kabur dari rumah dan memulai hidup baru dengan kemampuan itu.
Merampok bank sesuka hati di berbagai negara, membuat David kaya mendadak dan tinggal di apartemen mewah di New York. Tak hanya itu, dia pun bebas berkeliling dunia ke mana pun yang diinginkan. Mulai dari berjemur di atas kepala Sphinx di Mesir, ke gurun Sahara, bergelayutan di jarum jam Big Ben di London, dan masih banyak lagi.
Perjalanan David menjadi jumper ternyata tak semulus dugaan. Keasyikannya melompat berusaha dihentikan oleh kawanan pembasmi jumper, Paladin.
Adalah Roland (Samuel L Jackson) yang selalu berusaha menghabisi nyawa para jumper dengan menyetrum, lalu menusuk menggunakan pisau khusus.
Jika para jumper lolos, Roland tak segan membunuh siapa pun yang dekat dengan jumper tersebut. Seperti orangtua dan kekasih mereka.
jmp2.jpg
Roland si pembasmi Jumper
Kenangan masa lalu, terutama pada cinta pertamanya membawa David kembali ke rumah sang ayah. David berhasil  menemui cinta pertamanya, Millie (Rachel Bilson), hanya saja kedatangannya telah tercium oleh kaum Paladin. Yang mau tak mau akhirnya membuat David harus segera berpindah tempat dengan kekasihnya tersebut.
Millie yang hanya seorang gadis pinggiran kota sederhana punya mimpi keliling dunia. Dengan uang yang tak pernah habis, David pun membawa Millie ke kota favoritnya, Roma.
Dalam perjalanan romantisnya di dalam Colosseum, Roma, secara tidak sengaja David bertemu dengan Griffin (Jamie Bell) yang juga seorang Jumper. Ia sudah lama memperhatikan gerak-gerik David. Saat sedang berdebat, mereka diserang kaum Paladin. Sekali lagi, mereka lolos.
David yang sadar hidupnya tak lagi aman mencoba mencari sekutu. Ia membujuk Griffin yang keras kepala bekerjasama melawan Paladin.
Akankah persekutuan David dan Griffin mampu melawan Roland cs ? Bagaimana kelanjutan kisah cinta David dan Millie ? Supaya nggak penasaran ada baiknya tonton saja filmnya.
 

battle los angeles 2011

Sudah pernah menonton “Black Hawk Down” karya Ridley Scott? apabila jawabannya adalah sudah, maka tidak akan asing melihat “Battle: Los Angeles”, karena film perang arahan sutradara Jonathan Liebesman (The Texas Chainsaw Massacre: The Beginning) ini bisa dibilang mengambil template film tahun 2001 tersebut. Bedanya tentara Amerika tidak lagi dipasangkan dengan tentara milisi Somalia yang sangar, melainkan musuh yang datangnya dari luar bumi, yup alien. Jadi selain terasa sangat “Black Hawk Down”, lalu dipoles dengan opening ala “Saving Private Ryan”, belum apa-apa film ini sudah asyik menyodorkan penonton dengan serangan besar-besaran alien ke kota Los Angeles, serta cuplikan-cuplikan televisi yang memperlihatkan bahwa tidak hanya LA yang ketiban sial tetapi juga kota-kota lain di Amerika dan belahan dunia lain. Sebuah hidangan pembuka yang tentunya tidak bisa ditolak dan saya berharap “Battle: Los Angeles” memang sudah siap dengan “amunisi” berisi adegan-adegan yang lebih gila dari opening tersebut. Tapi sayangnya harapan itu seperti dibombardir, walau tidak sampai luluh lantah.
Pada 11 Agustus 2011, bumi kedatangan tamu sebuah objek asing dari luar angkasa yang awalnya diduga hanya meteor biasa, objek yang “melambat” sebelum jatuh tersebut tiba di kota-kota besar, termasuk Tokyo, Rio de Janeiro, Buenos Aires, New Orleans, Mexico City, New York, Hong Kong, London, Paris, Barcelona, Hamburg, Sydney dan tentu saja Los Angeles (mungkin cerita dari kota lain bisa dijadikan sekuel). Penghuni bumi pun tidak perlu waktu lama sampai akhirnya pertanyaan “apakah mereka sendirian?” selama ini terjawab, ketika dari meteor-meteor tersebut bermunculan alien-alien yang memang semenjak awal bukan datang dengan damai.
Pihak “penyerang” yang berbentuk seperti robot alien lengkap dengan persenjataan darat dan udara ini pun langsung melancarkan taktik Blitzkrieg, apapun tujuan mereka datang ke bumi, yang pasti manusia sepertinya tidak punya harapan. Namun bukan berarti kita diam saja, Amerika pun mengarahkan kekuatan militernya untuk mempertahankan kota-kota mereka, termasuk Sersan Michael Nantz (Aaron Eckhart) bersama dengan pasukan marinir yang bertugas mempertahankan kota Los Angeles dan mengevakuasi warga sipil. Nantz dan pasukannya yang “buta” dengan siapa mereka berhadapan, langsung terjun ke medan perang dan menyisir sudut demi sudut kota yang hancur hanya untuk menemukan bahwa mereka melawan sesuatu yang tidak pernah mereka hadapi sebelumnya.
Jika setelah menonton film ini kalian berpikir kenapa para alien ini bersusah payah untuk menyerang kota-kota dan berhadapan dengan manusia ketimbang diam-diam mengambil yang mereka inginkan, yaitu air, kemudian pulang ke kampung halaman mereka dengan damai, well pikiran itu juga terlintas di kepala saya. Sayangnya dengan tujuan alien yang sudah ditentukan dari awal sudah begitu, “Battle: Los Angeles” terpaksa mengerahkan seluruh sumber dayanya untuk menghibur kita dengan tumpukan special effect, perang-perangan, dan selipan drama. Alih-alih menyuruh aliennya diam-diam “menyedot” air yang memang melimpah di bumi dan membiarkan manusia berpikir bahwa telah terjadi fenomena aneh akibat pemanasan global, ketika tiba-tiba air laut surut begitu saja, film ini lebih tahu keinginan penonton dengan memerintahkan alien untuk menyerang kota-kota terpenting dunia. Jadi ketika manusia yang panik berpikir “hey kita sedang diinvasi, dikolonialisasi, dan dimusnahkan”, kemudian mati-matian mempertahankan kota mereka, pihak alien justru asyik menyedot sumber daya air di bumi tanpa gangguan.
Alien-alien ini memang punya taktik yang hebat untuk menguasai kota manusia dalam sekejap, dengan senjata canggih yang mereka bawa. sayangnya tidak dengan “Battle: Los Angeles” sendiri, filmnya justru tidak punya taktik sehebat alien, ceritanya bisa dikatakan lemah dan serangkaian drama yang coba dibangun juga tidak sekuat itu untuk menopang banyaknya pemain yang hilir mudik tanpa penggalian karakter yang cukup. Satu-satunya taktik yang cukup berhasil itu datang dari departemen visual effect. Ah berbicara soal efek khusus, salah-satu studio yang mengerjakan polesan pernak-pernik CGI di film ini adalah Hydraulx, milik Strause bersaudara, familiar dengan nama itu? wajar saja karena mereka tahun lalu membuat film bertema serupa, yakni “Skyline”. Karena film tersebut jugalah Hydraulx sempat bersitegang dengan pihak Sony Pictures Entertainment karena dituduh menggunakan materi dari “Battle: Los Angeles” untuk membuat film tandingan.
Saya pun kemudian melihat “Battle: Los Angeles” seperti sebuah pelengkap apa yang tidak dihadirkan oleh “Skyline”. Di review “Skyline”, saya ingat menyinggung bahwa nuansa “invasi” yang dibangun kurang terasa, maka “Battle: Los Angeles” membuatnya dengan cukup memuaskan dan tentunya meyakinkan karena seolah-olah dibuat senyata-mungkin, apalagi dengan kemasannya yang ala dokumenter itu. Jika “Skyline” terlihat superior di angkasa, maka “Battle: Los Angeles” fokus pada perang dalam kota dengan alien-alien berbentuk mekanik yang ditampilan persis seperti tentara manusia lengkap dengan rantai komando dan berperang layaknya manusia, bedanya mereka punya senjata lebih gahar. Sekali lagi atmosfir “Black Hawk Down” memang sangat terasa selama kita dibawa “jalan-jalan” bersama Sersan Nantz dan anak buahnya mengarungi reruntuhan kota Los Angeles. Walaupun cukup membosankan ketika berurusan dengan momen yang ditujukan untuk memancing emosi dan berbagai drama yang tampaknya gagal dalam misi untuk menciptakan chemistry dengan penonton. “Battle: Los Angeles” tidaklah seburuk itu, film ini masih menyenangkan dengan deretan aksi perang-perangan melawan alien, dengan dukungan visual efek yang mumpuni, mata kita pun akan dimanjakannya. Kita memang dipaksa untuk membuat taktik sendiri untuk menikmati “Battle: Los Angeles”, apalagi jika bukan lupakan ceritanya yang loyo itu.

Underworld (2003)

Jauh, jauh sebelum perselisihan antara Edward Cullen dengan Jacob Black hanya gara-gara merebutkan hati sosok cantik Elizabeth Swan, di Underworld sudah terjadi pertumpahan darah antar Vampir dan Werewolf. Di Underworld, Werewolf sering disebut sebagai Lycans dan juga ada spesies gabungan antara Vampir dan Lycans yang tentu saja lebih kuat dari keduanya, mereka menyebutnya Hybrid. Sosok-sosok monster di Underworld disajikan begitu kelam, tak seperti Vampir yang kelihatannya senang bersolek di Twilight, bangsa Vampir lihai menggunakan senjata dan siap mati untuk bertarung dengan musuh besarnya, Lycans. Pun dengan Lycans, tak seperti sekumpulan manusia yang senang bertelanjang dada di Twilight, bangsa Lycans terlihat sangat mengerikan disini, sosok monster haus darah yang siap mencabik-cabik siapa saja yang menghalangi. Di postingan kali ini saya akan membahas empat film dari franchise Underworld. Jadi terserah kamu, lebih memilih kubu Twilight atau kubu Underworld.

Underworld (2003)

Perang besar antar Vampir dan Lycans sudah terjadi sejak berabad-abad yang lalu dan masih berlangsung hingga saat ini. Pemimpin bangsa Lycans bernama Lucian diketahui sudah tewas karena dibunuh oleh Vampir bernama Kraven yang saat ini berkuasa. Kemudian ada Vampir wanita bernama Selene yang tengah menyelidiki beberapa Lycan yang sedang membututi seorang manusia bernama Michael Corvin. Di tengah penyelidikan, Selene menemukan fakta-fakta mengejutkan bahwa Lucian masih hidup dan ada pengkhianat di dalam bangsa Vampir. Belakangan juga diketahui bahwa Lucian mengincar Michael Corvin karena dalam darahnya mengalir sesuatu yang tak biasa. Sesuai dengan judulnya, selanjutnya Underworld akan berjalan dengan nuansa yang begitu kelam. Film pertama ini cukup berhasil untuk membangun kesan pertama. Kita dihadapkan pada pertarungan epik antar dua legenda monster, meskipun ya dibandingkan saat ini tak ada yang istimewa untuk adegan aksinya. Daya tarik Underworld terlihat pada sosok Kate Beckinsale yang sangat menyatu dengan Selene. Bagaimana sosok Vampir wanita yang tetap kelihatan anggun meskipun sering terkena cipratan darah. Hanya saja karakter yang lain tak bisa berkembang dan plot yang diusung kelihatan terburu-buru demi menyelesaikan semua permasalahan yang sudah terjadi. Ada bagian disana-sini yang cukup mengganjal dan terlihat dipaksakan, durasi yang panjang dan konflik yang meluas membuat penonton sedikit terengah-engah di pertengahan film.

The Shawshank Redemption


Andy Dufreyn (Tim Robbins), adalah seorang narapidana yang dipenjara atas kejahatan yang tidak dia lakukan. Bisa dikatakan dia adalah korban dari hukum yang tidak dijalankan secara adil, juga ditambah dengan pengacara yang tidak becus. Dia dipenjara atas tuduhan bahwa dia telah membunuh dua orang warga sipil. Memang, di film itu, istri nya selingkuh dengan orang lain, dan Andy juga sebenarnya kecewa dengan itu. Tapi kenyataannya bukan Andy yang membunuh istri dan lelaki selingkuhannya. Andy dijatuhi hukuman puluhan tahun penjara.
Andy-Dufresne-(Tim-Robbins)
Andy Dufresne
Dipenjara, Andy bertemu dengan beberapa narapidana lain yang kemudian menjadi kawan baiknya. Andy yang dulunya bekerja sebagai bankir ini pernah membantu seorang petinggi penjara bebas dari pajak. Dan sejak itu popularitasnya didalam penjara mulai meningkat. Dia mulai menghitung pajak beberapa pegawai dalam penjara, bahkan sampai pegawai dari penjara lain. Andy bukan hanya menjadi penghitung pajak yang ulung, dia juga menjadi penasihat keuangan yang handal. Sang kepala penjara semakin percaya padanya.
Andy membawa banyak perubahan yang baik bagi penjara Shawshank. Namun, dia juga menjadi incaran kawanan beberapa narapidana lain yang “suka” padanya. Mereka ingin menindas Andy untuk melakukan hal-hal asusila. Andy hampir selalu lolos dari mereka. Suatu ketika Andy babak belur karena kawanan itu. Sipir penjara yang menjadikan Andy sebagai penasihat keuangannya marah besar, dan menghajar kembali orang yang menganiaya Andy.
Andy berkawan baik dengan Red (Morgan Freeman) dkk. Mereka selalu berbagi cerita satu sama lain. Red adalah seorang penyelundup barang dari luar masuk ke penjara. Barang-barang seperti rokok, poster, sampai palu bisa dia selundupkan kedalam penjara. Dia menyogok sipir untuk itu.
Red-dan-Andy-Dufresne
Red dan Andy
Karena kejeniusan Andy, kepala penjara, Warden Norton mempercayakan semua urusan keuangan penjara kepada Andy. Andy melakukan semua perintahnya dengan baik. Karena jasa Andy, penjara mendapatkan banyak bantuan finansial dan non finansial dari luar. Hasilnya berupa buku-buku, piringan hitam, juga uang untuk pendanaan penjara.
Semakin lama, semakin banyak uang yang masuk. Hal ini sejalan dengan rencana Norton untuk menyelewengkan uang itu, dan Andy melakukan perintah dari Norton dengan baik. Norton suka dengan rencana Andy yang menciptakan identitas palsu sebagai akun pemilik uang-uang itu di Bank. Andy menciptakan identitas itu tanpa harus melanggar peraturan pemerintah. Ini adalah spesialisasi Andy.
Warden-Norton,-Kepala-Penjar-Shawshank
Warden Norton
Penjara menerima banyak tahanan baru yang menggantikan tahanan yang selesai masa penahanannya. Tommy (Gill Bellows) adalah salah satunya. Tommy adalah seorang residivis muda. dia sudah sering keluar masuk penjara. Tak lama kemudian Tommy menjadi akrab dengan kelompok Red yang didalamnya juga ada Andy. Pada suatu kesempatan, Tommy bercerita mengenai kenapa dia bisa masuk penjara. Dia menjelaskan semuanya. Tommy penasaran bagaimana bisa orang seperti Andy masuk penjara? Dan tidak lama kemudian Tommy juga tahu kenapa demikian.
Dari cerita tersebut, Tommy merasa ada kejanggalan. Dia pernah satu penjara dengan seseorang yang mengaku membunuh sepasang lovers yang sedang bercinta. Si laki-laki adalah pe golf pro, dan si wanita adalah istri seorang bankir. Andy memastikan cerita itu, dan mendapati bahwa cerita itu benar adanya.
Tommy-dan-Andy-Dufresne
Tommy dan Andy
Emosi Andy sudah tidak tertahankan. Dia sudah beberapa tahun dipenjara, sedangkan dia tidak bersalah. Kali ini Andy berupaya untuk meyakinkan Norton untuk membebaskannya berdasarkan kesaksian Tommy. Norton murka, karena ini bisa merusak rencananya untuk bisa pensiun kaya raya dengan uang hasil penyelewengannya. Tommy kemudian dibunuh oleh sipir suruhan Norton. Semua narapidana tahu kalau kematian Tommy itu janggal. Dan Andy kena sanksi kurungan yang lama dalam ruangan sempit.
Setelah bebas dari sanksi nya, Andy merencanakan sesuatu. Andy memesan tali kepada Red. Red khawatir dengan benda yang dipesan si Andy, dia takut jangan sampai Andy berniat untuk bunuh diri. ternyata tidak demikian.
Andy kembali melakukan perintah Norton dengan baik. Menghitung dan menyimpan uang nya dalam brankas juga menyemir sepatu Norton. Andy kembali kedalam sel nya dengan tidak mendapat kecurigaan dari sipir penjara.
Di malam badai itu Andy menjalankan rencananya. Dia melarikan diri dari penjara. Bagaimana bisa dia melarikan diri dari penjara dengan keamanan yang ketat seperti penjara Shawshank ini? Dia melarikan diri dengan melewati lubang yang dia gali secara diam-diam selama bertahun-tahun didinding selnya. Lubang itu dia tutupi dengan sebuah poster wanita cantik.
Perjuangan Andy melarikan diri tidak mudah, dia harus keluar melalui pipa pembuangan kotoran penjara. Dia harus merangkak dalam pipa berdiameter sempit yang berbau busuk sejauh ratusan meter. Dan Andy memperoleh hasil yang adil. Dia merasakan kebebasannya! Dia telah bebas dari penjara yang sudah puluhan tahun mendekamnya dengan tidak adil.
Kelakuan Norton dan sipir-sipir lainnya dipenjara dibalas oleh Andy. Andy mengambil semua uang di Bank yang sebelumnya dia selewengkan atas perintah Norton. Para bankir tidak curiga, karena semua keterangan yang dibutuhkan mampu dipenuhi Andy. Tidak ada yang tahu kalau Andy adalah seorang narapidana yang melarikan diri dari penjara.
Mendapati bahwa Andy melarikan diri dari penjara, Norton sangat marah. Kawan-kawan Andy diinterogasi satu per satu. Tapi tidak ada yang tahu bagaimana Andy bisa melarikan diri dari penjara. Sampai kemudian Norton tahu kalau selama ini poster yang ada didalam sel Andy menutupi sebuah lubang tempat Andy melarikan diri. Norton sangat bernafsu untuk mendapatkan kembali Andy dan menghukumnya.
Tapi terlambat, Norton lah yang kena batu nya, dia akan ditangkap oleh pihak berwenang karena banyak pelanggaran yang terjadi didalam penjara Shawshank. Andy lah yang berada dibalik itu, dia lah yang membocorkan kepada media mengenai kebobrokan dalam penjara itu. Semua bukti benar, dan Norton sudah tidak dapat mengelak. Norton tidak berhasil ditangkap, dia lebih dulu melakukan bunuh diri dengan menembakkan pistol dari bawah dagu nya hingga tembus keatas kepalanya.
Red-(Morgan-Freeman)
Red
Andy bebas, dan berlayar ke sebuah pulau tak berpenghuni di perairan Pasifik. Dia telah merencanakan semuanya, dan meminta Red untuk menemuinya di pulau tersebut setelah babas. Red menepati janjinya, dia mengikuti petunjuk dari Andy yang dulu diberitahukan Andy sebelum melarikan diri dari penjara. Red tidak sepenuhnya yakin, tapi dia melakukannya.
Keyakinan Red terbayarkan. Dia menemukan Andy di pulau impiannya sedang memperbaiki sebuah perahu. Mereka kembali bertemu. Di pulau itu, tidak akan ada yang mengganggu mereka lagi. Mereka telah bebas dan  damai.

The Hunger Games: Catching Fire 2013


Membunuh atau dibunuh. Itulah aturan sederhana dari acara tahunan Hunger Games. Di suatu masa depan, Amerika Utara musnah lalu berdirilah negara Panem dengan Capitol sebagai ibu kota. Awalnya, Capitol dikelilingi 13 distrik. Namun, suatu ketika terjadi pemberontakan melawan Capitol dan berakibat musnahnya Distrik 13. Sebagai pengingat akan kekuasaan ibu kota, Capitol mengadakan acara televisi The Hunger Games setiap tahun di mana satu anak laki-laki dan satu anak perempuan berumur 12 hingga 18 tahun dari setiap distrik dipilih untuk bertarung sampai mati. Dua puluh empat peserta setiap tahun dan hanya akan ada satu pemenang. Acara tersebut disiarkan live di seluruh Panem.
Katniss Everdeen, 16, adalah gadis yang tinggal di Distrik 12 bersama ibu dan adik perempuannya, Primrose Everdeen. Distrik 12 mendapat jatah sebagai produsen batubara. Sejak kematian ayahnya dalam ledakan di tambang, Katniss mengambil alih sebagai kepala keluarga. Setiap hari ia berburu bersama sahabat laki-lakinya, Gale. Pada saat pengambilan undian Hunger Games ke-74, nama Primrose terpilih sebagai peserta. Secara spontan, Katniss bersedia menggantikan posisi adiknya. Bersama anak laki-laki terpilih dari distrik 12 bernama Peeta Mellark, Katniss menyuguhkan acara The Hunger Games yang tak terlupakan untuk warga Panem.
Alur cerita novel ini tergolong sederhana. Yang membuat The Hunger Games menarik adalah karakter tokoh dan detil aksi yang intens. Katniss adalah pemburu yang berpengalaman, akrab dengan alam, dan sangat mandiri. Negara Panem melarang perburuan di Distrik 12 sehingga wilayah itu dikelilingi pagar berarus listrik. Namun Katniss dan Gale selalu lolos dan berhasil membawa hasil buruan untuk dimakan atau ditukar dengan kebutuhan lain untuk keluarga mereka. Keahlian berburu dan pengalaman Katniss lah yang membuat jalan cerita saat pertarungan menjadi menarik.
Selain aksi, novel ini mengangkat kehidupan pribadi Katniss untuk ditonjolkan pada sisi drama. Apalagi novel ini bertutur menggunakan sudut pandang Katniss. Penulis menyoroti peran Katniss sebagai kepala keluarga di usia belia dan rasa sayangnya kepada Prim, si bungsu. Begitu juga dengan keraguan perasaan Katniss terhadap Gale. Ditambah lagi dengan pengakuan Peeta yang ternyata menyukai Katniss sejak hari pertama sekolah. Hubungan Katniss-Peeta banyak diolah sejak acara The Hunger Games dimulai. Hubungan ini pula yang membuat pembaca mengira-ngira motivasi Peeta yang sesungguhnya.
Edisi terjemahan dari Gramedia dikerjakan dengan baik. Alih bahasanya mulus dan minim typo. Sampulnya mengadopsi versi asli yang menurut saya kurang eye catching. The Hunger Games adalah buku pertama dari trilogi. Sekuelnya adalah Catching Fire dan Mockingjay. Penulisnya, Suzanne Collins mengategorikan novel ini untuk konsumsi Young Adult. Sebelum menulis The Hunger Games, Collins bekerja untuk Nickelodeon. Novel ini meraih berbagai penghargaan dan menjadi New York Times bestseller. Adaptasi film The Hunger Games dijadwalkan akan rilis pada Maret 2012 dengan Jennifer Lawrence sebagai Katniss.
Hal yang patut dicatat dalam novel ini adalah penulis berhasil menyajikan dunia baru, tanpa penyihir, naga, ksatria, dan lain sebagainya. Terasa menyegarkan mengingat setelah era Harry Potter, dunia perbukuan dibanjiri cerita fantasi dengan negeri antah berantah. Di novel ini hanya ada anak-anak yang diuji ketangguhan dan kreativitasnya untuk bertahan hidup. Mengerikan memang, namun idenya keren, alurnya tegang dari awal hingga akhir, dan membuat saya sulit meletakkan buku ini sebelum selesai. Oh ya, saya juga menyukai nama-nama karakternya yang unik.
Nah, berikut ini foto adaptasi film The Hunger Games yang baru-baru ini dilansir oleh rumah produksi Lionsgate. Siapakah mereka?

The Wolf of Wall Street 2013

 
Dibawah bimbingan Mark Hanna (Matthew McConaughey), boss Wall Street dengan pola kehidupan bebas bersama seks dan kokain, dalam waktu singkat Jordan Belfort (Leonardo DiCaprio) berhasil berubah dari seorang pria biasa menjadi ahli stockbroker dengan penghasilan yang luar biasa tiap bulannya. Dari sana kehidupan Belfort semakin besar, berawal dari insiden Black Monday, Belfort mengikuti saran dari istrinya, Teresa (Cristin Milioti), hijrah ke Long Island dan masuk ke perusahaan yang justru memberikannya keuntungan jauh lebih besar.   

Keberhasilan tersebut menjadikan rasa percaya diri Belfort tumbuh semakin tinggi, dan bersama bantuan ayahnya, Max (Rob Reiner), serta Donnie Azoff (Jonah Hill) dan rekan lainnya, Belfort kembali menelurkan kesuksesan dengan menyulap perusahaan kecil yang ia namai Stratton Oakmont menjadi sebuah perusahaan investasi raksasa. Namun sikap agresif yang ia miliki semakin tidak terkendali, perlahan membawa Belfort kedalam masalah dengan melibatkan wanita cantik bernama Naomi Lapaglia (Margot Robbie), hingga Patrick Denham (Kyle Chandler).


Setelah ia bergerak tidak begitu jauh dari garis awal sangat mudah untuk kemudian menggumamkan satu kata: gila! Ya, ini gila, Martin Scorsese membuktikan bahwa ia merupakan sutradara yang selalu mampu bermain dibanyak warna cerita lewat upaya menghadirkan penggambaran dari drama bertemakan moralitas dengan cara yang sangat liar. Kecanduan narkoba, pelacur, perselingkuhan, aksi saling tipu saham dan investor ratusan juta dolar, dikombinasikan bersama ketelanjangan tanpa rasa takut, The Wolf of Wall Street bukan hanya menjadi biografi dari sosok nyata bernama Jordan Belfort, namun juga wujud sebuah sindiran tajam dari seorang Scorsese terhadap budaya keserakahan.

The Wolf of Wall Street adalah sebuah kemasan menyenangkan yang mencoba melemparkan tragedi tanpa sekalipun jatuh ke lingkup menghakimi. Penuh sesak dengan hadirnya pengulangan yang terkesan bertele-tele dan berlebihan, selama hampir tiga jam kita akan diajak untuk mengamati potret dari gaya hidup hedonistik dalam gerak cerita yang selalu dinamis dan cekatan, menelusuri kehidupan Jordan Belfort dari ketika ia hanya seorang pria biasa hingga menjadi sosok yang dikagumi lengkap dengan kegembiraan penuh pesta pora, kemakmuran dengan kemewahan melimpah, serta ujian yang menemani dalam balutan kombinasi antara mimpi, ambisi, dan self-control.

Ya, self-control, dibalik tampilan luas miliknya yang mungkin akan terkesan tidak memiliki tujuan yang kuat dan dipenuhi dengan omong kosong berlebihan itu The Wolf of Wall Street sesungguhnya hanya mencoba menggambarkan satu hal sederhana dari naskah yang ditulis ulang oleh Terence Winter ini, bagaimana pentingnya kemampuan kita untuk mengendalikan serta menyeimbangkan kehidupan. Sangat sederhana, bahkan Scorsese sejak awal seperti tidak ingin mencoba bergerak terlalu jauh saat membentuk pesan yang ia bawa, menghindari cara rumit dan kompleks, dan justru hendak membawa penonton mengerti niat utamanya lewat cara hanyut dalam aksi menertawakan perilaku buruk yang membawa mimpi buruk bersama dominasi kehadiran komedi hitam.


Konsep yang diusung Scorsese pada film ini adalah dengan menciptakan cerita yang terus mengalir dengan powerfull serta dipenuhi kegaduhan tanpa henti, menyapu penontonnya kedalam jeratan narasi konvensional yang terus mencuri atensi, struktur cerita yang cantik bersama sikap totalitas dan komitmen yang tampil tanpa rasa takut. Proses menghancurkan karakter ini berhasil menjadi sebuah alarm terkait sikap hedonisme, dengan gerak gelisah yang dipenuhi kepanikan dan ratusan F-word, terkadang juga terasa absurd, lewat sebuah refleksi menjijikkan dari sikap berlebihan yang tidak pernah puas.

Yang menjadi masalah disini adalah dengan keberadaan Martin Scorsese di bangku kendali, The Wolf of Wall Street sudah terlanjur dengan cara yang sangat mudah menghadirkan ekspektasi akan hadirnya sesuatu yang besar dalam kemasan yang besar. Hal tersebut menyebabkan pesan sederhana yang sesungguhnya sangat powerfull itu akan terkesan terlalu berlebihan pada proses penggambaran yang bahkan mungkin akan terasa melelahkan bagi sebagian orang, walaupun sepanjang durasi saya tidak menemukan momen membosankan meskipun ia punya momentum yang seperti melemah ketika kita mulai keluar dari pesta dan masuk kedalam duka. Keinginan Martin Scorsese untuk menghadirkan kekacauan yang liar dan terkendali juga sangat terbantu berkat kinerja memikat divisi akting.

Ini mungkin kinerja terbaik dari seorang Leonardo DiCaprio dari daftar film miliknya yang telah saya tonton, ia bersinar di dalam totalitas pada upaya menyeimbangkan sisi karismatik bersama sisi hitam yang dimiliki Belfort. Oscar? Hmmm. Begitupula dengan Jonah Hill dengan gigi putihnya, dan Margot Robbie yang secara mengejutkan bukan hanya tampil sebagai pemanis belaka. Scorsese juga cerdik dalam membentuk karakter kecil yang dimainkan dengan baik oleh deretan sosok yang sudah tidak asing lagi, dari Cristin Milioti, Jean Dujardin, Matthew McConaughey, Spike Jonze, Kyle Chandler, hingga Jon Favreau.


Overall, The Wolf of Wall Street adalah film yang memuaskan. Mungkin ia akan terkesan terlalu berlebihan serta tidak memiliki point utama yang begitu penting, karena pesan sederhana terkait self-control dengan menggunakan tema hedonisme itu disembunyikan oleh Martin Scorsese didalam struktur yang sengaja ia bangun kedalam sebuah studi karakter yang tampil penuh totalitas dan komitmen, berkilau dalam gerak yang terasa liar, namun tetap terkendali.

TRANSLATE

English French German Spain Italian Dutch

Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2013. Zona Film - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger